Laman

Kamis, 30 Mei 2013

NIKMAT ALLAH

A. Mengingat Nikmat Allah

 وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ

009. (Dan sungguh jika) huruf Lam di sini bermakna Qasam (kamu tanyakan kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Niscaya mereka akan menjawab,) dari lafal Layaquulunna terbuang Nun alamat Rafa'nya, karena jika masih ada, maka akan terjadilah huruf Nun yang berturut-turut, dan hal ini dinilai jelek oleh orang-orang Arab. Sebagaimana dibuang pula daripadanya Wawu Dhamir jamak, tetapi 'Illatnya bukan karena bertemunya dua huruf yang disukunkan ("Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui") jawaban terakhir mereka adalah, "Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahuilah yang menciptakan kesemuanya itu." Selanjutnya Allah swt. menambahkan:

 الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ مَهْداً وَجَعَلَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلاً لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُون


010. (Yang menjadikan bumi untuk kalian sebagai tempat menetap) sebagai hamparan yang mirip dengan ayunan bayi (dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kalian) dilalui (supaya kalian mendapat petunjuk) untuk mencapai tujuan-tujuan di dalam perjalanan kalian.

 وَالَّذِي نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَنشَرْنَا بِهِ بَلْدَةً مَّيْتاً كَذَلِكَ تُخْرَجُون

011. (Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar) yang diperlukan oleh kalian, dan Dia tidak menurunkannya dalam bentuk hujan yang sangat besar yang disertai dengan angin topan (lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah) sebagaimana cara menghidupkan itulah (kalian akan dikeluarkan) dari dalam kubur kalian lalu kalian menjadi hidup kembali.

 وَالَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُم مِّنَ الْفُلْكِ وَالْأَنْعَامِ مَا تَرْكَبُون

012. (Dan Yang menciptakan makhluk yang berpasang-pasangan) berbagai jenis makhluk berpasang-pasangan (semuanya, dan menjadikan untuk kalian kapal) atau perahu-perahu (dan binatang ternak) misalnya unta (yang kalian tunggangi) di dalam lafal ayat ini dibuang daripadanya Dhamir yang kembali kepada lafal Ma demi untuk meringkas, Dhamir tersebut adalah lafal Fihi maksudnya, yang dapat kalian kendarai.


 لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِين

013. (Supaya kalian dapat duduk) tetap (di atas punggungnya) Dhamir yang ada pada ayat ini dimudzakkarkan, dan lafal Zhahr dikemukakan dalam bentuk jamak sehingga menjadi Zhuhur; hal ini karena memandang makna yang terkandung di dalam lafal Ma (kemudian kalian ingat nikmat Rabb kalian apabila kalian telah duduk di atasnya dan supaya kalian mengatakan, "Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya) tidak dapat menguasainya.


Bersyukur adalah ungkapan yang berisikan pujian kepada Allah SWT. Syukur berarti mengakui segala kebaikan dan nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, hamba-hamba-Nya.
Banyak cara untuk bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah kita terima. Mulai dari sekadar mengucapkan alhamdulillahi rabbil alamin sampai mengeluarkan sebagian harta untuk disedekahkan atau dizakatkan. Yang pasti, tidak ada sebuah ungkapan syukur yang direalisasikan dengan keburukan-keburukan akhlak dan perilaku. Baik keburukan yang dilakukan secara individu, apalagi yang dilakukan secara kolektif.
Telah banyak contoh yang diberikan oleh Allah atas pribadi-pribadi dan kaum-kaum, serta bangsa-bangsa yang sebelumnya diberi kenikmatan, namun karena masyarakatnya tidak bersyukur, maka Allah memberikan azab yang tidak terbayangkan.
Sesungguhnya, hakikat bersyukur itu akan kembali kepada kita sendiri. Allah SWT berfirman, ”Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri.” (QS An Naml [27]: 40).
Tidaklah Allah SWT akan berkurang kemuliaan-Nya hanya karena penduduk bumi ini tidak bersyukur kepada-Nya. Tidak pula akan bertambah tinggi kemuliaan-Nya karena seluruh penduduk bumi ini bersyukur kepada-Nya. Kemuliaan Allah SWT tidak bergantung kepada kita hamba-Nya yang lemah.
Begitu banyak nikmat yang telah kita terima dari Allah SWT. Negara ini telah mendapatkan nikmat lahan yang subur, kandungan sumber daya alam melimpah, dan masyarakat Muslim yang sangat banyak. Diri-diri kita telah mendapatkan nikmat hidup berkecukupan, anak-anak yang sehat dan cerdas, pasangan hidup yang beriman. Bukan itu saja, masih banyak nikmat-nikmat yang lain, yang jika kita mencoba menghitungnya, niscaya tidak akan mampu. Allah SWT berfirman, ”Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An Nahl [16]: 18).

Hisablah diri-diri kita dan perilaku masyarakat bangsa Indonesia tercinta ini. Apakah kita telah berperilaku layaknya orang-orang yang bersyukur? Apakah masyarakat bangsa ini telah berperilaku layaknya masyarakat yang bersyukur atas segala nikmat-nikmat Allah terhadap bangsanya? Jangan-jangan terlalu banyak keburukan yang kita lakukan secara individu maupun kolektif dan justru terlalu sedikit ungkapan syukur yang kita panjatkan kepada Allah SWT atas nikmat yang banyak ini.

B. Mensyukuri Nikmat Allah

إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ أَوْثَاناً وَتَخْلُقُونَ إِفْكاً إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقاً فَابْتَغُوا عِندَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

017. (Sesungguhnya apa yang kalian sembah selain Allah itu) (adalah berhala-berhala, dan kalian membuat dusta) kalian mengatakan kebohongan, bahwa berhala-berhala itu adalah sekutu-sekutu Allah. (Sesungguhnya yang kalian .sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepada kalian) maksudnya mereka tidak akan mampu memberi rezeki kepada kalian (maka mintalah rezeki di sisi Allah) yakni mintalah rezeki itu kepada-Nya (dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kalian akan dikembalikan)

 Bersyukur kepada Allah pada hakikatnya adalah mengakui bahwasannya segala kenikmatan yang ada pada diri kita dan semua makhluk ciptaanNya adalah berasal dari Allah Ta'ala. Dalam bahasa mudahnya bersyukur adalah berterima kasih. Kita seringkali berterima kasih kepada sesama manusia, tetapi melupakan satu hal yang justru harus kita lakukan yaitu mensyukuri nikmat Allahyang ada pada diri kita semuanya.

Arti syukur dalam harfiah bahasa adalah merupakan pujian bagi orang yang memberikan kebaikan, atas kebaikannya tersebut (Al Jauhari). Sedangkan pengertian bersyukur dalam agama bahwa syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya. Dengan melalui lisan, yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat. Dengan melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Melalui anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah"(Madarijus Salikin, 2/244). Ini adalah pengertian syukur menurut Ibnul Qayyim. Dan 3 hal di atas adalah cara mensyukuri nikmat Allah atas diri kita.

Lawan dari syukur adalah kufur nikmat, yaitu enggan atau tidak mau untuk menyadari atau bahkan mengingkari bahwa nikmat yang ia dapatkan adalah dari Allah Ta’ala. Kita berlindung kepada Allah dari sifat kufur nikmat ini aamiin. Bila kita pandai dalam 
mensyukuri nikmat Allah maka hal ini akan mendatangkan nikmat-nikmat Allah lainnya

Ada beberapa tanda-tanda orang yang bersyukur dan tanda tersebut adalah :
a)      Mengakui, memahami, serta menyadari bahwa Allah-lah yang telah memberikan nikmat. Pengertiannya di sini adalah bahwa segala nikmat pada dasarnya Allah yang memberikan kepada kita. Manusia adalah juga merupakan perantara dari Pemberi Nikmat yang sesungguhnya yaitu Allah. Orang yang bersyukur senantiasa menisbatkan setiap nikmat yang didapatnya kepada Allah Ta’ala, bukan kepada makhluk atau pun lainnya.

b)      Orang bersyukur akan menunjukkan dalam bentuk ketaatan kepada Allah. Jadi tanda mensyukuri nikmat Allah adalah menggunakan nikmat tersebut dengan beribadah dan taat menjalankan ajaran agama. Keanehan bila orang mengakui nikmat Allah, tetapi tidak mau menjalankan ajaran agama seperti halnya sholat, enggan belajar agama dan sejenisnya.
Lalu bagaimana kita tanda bersyukur pada Allah ini dalam kehidupan kita sehari-hari. Ada beberapa cara mensyukuri nikmat Allah yang diberikan kepada kita yaitu diantaranya dengan :

1.       Mensyukuri nikmat Allah dengan melalui hati. Cara bersyukur kepada Allah dengan hati ini maksudnya adalah dengan mengakui, mengimani dan meyakini bahwa segala bentuk kenikmatan ini datangnya hanya dari Allah SWT semata.
2.       Mensyukuri nikmat Allah dengan melalui lisan kita. Caranya adalah dengan kita memperbanyak ucapan alhamdulillah (segala puji milik Allah) wasysyukru lillah (dan segala bentuk syukur juga milik Allah).
3.       Mensyukuri nikmat Allah dengan perbuatan kita. Yaitu perbuatan dalam bentuk ketaatan kita menjalankan segala apa yang diperintah dan menjauhi segala apa yang dilarangNya. PerintahNya termasuk segala hal yang yang berhubungan dalam rangka menunaikan perintah-perintah Allah, baik perintah itu yang bersifat wajib, sunnah maupun mubah.
Anggapan kebanyakan orang, bersyukur kepada Allah hanya perlu dilakukan pada saat mendapatkan anugrah besar atau terbebas dari masalah besar adalah hal yang merupakan suatu kekeliruan yang besar. Padahal jika kita merenung sejenak, maka kita akan bisa menyadari bahwa kita semua ini dikelilingi oleh nikmat yang tidak terbatas banyaknya. Dalam hitungan waktu ,setiap detik, setiap menit, dan seterusnya tercurah kenikmatan dari Allah tak terhenti yang berupa hidup, kesehatan, kecerdasan, panca indra, udara yang dihirup.
Mudahnya adalah segala sesuatu yang memungkinkan orang untuk hidup telah diberikan oleh Allah. Sebagai balasan semua itu, seseorang diharapkan untuk mengabdi kepada Allah sebagai rasa syukurnya. Orang-orang yang tidak memperhatikan semua kenikmatan yang mereka terima, dengan demikian telah mengingkari nikmat (kufur). Mereka baru mau bersyukur apabila semua kenikmatan telah direnggut darinya. Contoh mudahnya adalah kesehatan yang tidak pernah diakui sebagai nikmat baru akan disadari dan syukuri setelah mendapatkan sakit.
Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk senantisa mensukuri nikmat yang telah diberikanNya dan menggunakan nikmat tersebut dalam rangka mencari keridhoan Allah yang diwujudkan dalam bentuk ketaatan kita..


C. Cara Menyukuri Nikmat
QS. Al-fathir : 3
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ
Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?


Rabu, 29 Mei 2013

BERKOMPETISI DALAM KEBAIKKAN

A. Iman Dan Berbuat Baik / Beramal saleh

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً 

طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ


97. Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. 


Iman dan amal saleh merupakan kata yang tidak asing dalam kehidupan kita,namun pelaksanaan hal ini belum kita ketahui sepenuhnya sehingga membuat sering terjerumus dalam kekeliruan dalam memahaminya.Sarana yang paling utama dan paling mendasar dalam masalah ini adalah beriman kepada Allah dan beramal Shaleh. Firman Allah ta’ala:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman,maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97).
Allah ta’ala mengabarkan dan menjanjikan bagi siapa saja yang menggabungkan antara iman dan amal shaleh dengan kehidupan yang baik di dunia ini serta balasan kebaikan di dunia dan akhirat.
Sebabnya jelas, karena orang-orang yang beriman kepada Allah ta’ala dengan iman yang benar dan berbuat amal shaleh yang dapat memperbaiki hati, akhlak, dunia dan akhirat, mereka memiliki pijakan dan landasan tempat menerima semua apa yang datang kepada mereka,baik yang berbentuk kebahagiaan dan kesenangan atau penderitaan dan kesedihan.
Jika mereka mendapatkan sesuatu yang dicintai dan disenangi, mereka menerimanya dengan rasa syukur serta menggunakannya sesuai fungsinya, dan jika mereka menggunakannya atas dasar tersebut maka timbullah perasaan gembira seraya berharap agar kebaikan tersebut tetap ada padanya dan mengandung berkah serta berharap teraihnya pahala karena dia termasuk orang-orang yang mensyukurinya. Semua itu merupakan perkara yang agung yang nilai dan berkahnya melebihi kebaikan itu sendiri sekaligus merupakan buahnya.
Mereka juga menghadapi keburukan dan kesulitan sesuai kemampuan yang mereka miliki, memperkecil semampunya, sabar terhadap apa yang tak mungkin mereka hindari. Dengan demikian, kesulitan-kesulitan tersebut memberikan mereka pengalaman dan kekuatan bagaimana menghadapi masalah. Sabar dan berharap pahala atas apa yang dialami, berdampak sangat besar atas hilangnya kesulitan, berganti dengan kemudahan dan harapan yang baik, keinginan akan karunia Allah dan ganjaran-Nya, sebagaimana yang digambarkan Rasulullah  dalam hadits shahihnya:
“Sesungguhnya perkara seorang mu’min itu menakjubkan, karena semua perkara yang dialaminya adalah baik; jika mendapatkan kesenangan dia bersyukur, maka hal itu lebih baik baginya, jika mengalami kesulitan dia bersabar, maka hal itu lebih baik baginya, dan hal seperti itu tidak terdapat kecuali pada diri seorang mu’min.” (HR. Muslim).
Dalam hadits tersebut Rasulullah  menggambarkan bahwa seorang mu’min akan berlipat-lipat kebaikan dan buah amalnya atas setiap apa yang dialaminya.

Karena itu anda akan mendapatkan dua orang yang mengalami hal serupa baik berupa kebaikan ataupun keburukan, akan tetapi ada perbedaan yang besar di antara keduanya dalam menerimanya. Hal tersebut dapat terjadi, karena berbedanya iman dan amal shaleh pada keduanya.
Yang pertama menerima kebaikan dan keburukan sebagaimana yang telah kita sebutkan, yaitu dalam bentuk syukur dan sabar dengan segala konsekwensinya.Sehingga lahir pada dirinya perasaan bahagia dan senang,hilangnya rasa gundah gulana, perasaan tak tenang,kesempitan dada dan kehidupan sengsara, semuanya berganti dengan kehidupan bahagia di dunia ini.

Sementara yang lain menerima kesenangan dengan sombong dan melampaui batas. Akhlaknya menyimpang sehingga dia menerimanya bagaikan hewan rakus yang kelaparan, namun demikian hatinya tetap tidak tenang,bahkan gelisah dari berbagai sisi, dari sisi ketakutan akan hilangnya sesuatu yang dicintainya, dari banyaknya pertikaian yang biasanya tumbuh dari hal tersebut, dari sisi jiwanya yang tak puas-puasnya, bahkan menginginkan hal-hal lainnya yang mungkin dapat dia raih ataupun tidak. Walaupun seandainya dapat diraihnya, itupun akan mengakibatkan kegelisahan dari berbagai sisi yang telah disebutkan tadi.

Adapun jika mendapatkan kesulitan, dia menerimanya dengan panik, ketakutan dan tidak tenang. Jika demikian halnya, maka jangan tanya lagi bagaimana sempit kehidupannya, banyak pikiran dan tegang, ketakutan yang dapat mengakibatkan kondisi lebih buruk dan lebih parah lagi. Karena semua itu tidak dihadapi dengan mengharap pahala dari Allah, juga tidak dengan kesabaran yang dapat menghiburnya dan meringankan penderitaannya.
Semua itu dapat disaksikan lewat pengalaman. Satu contoh, jika anda renungkan dan anda kaitkan dengan realita yang ada, maka akan anda dapatkan perbedaan yang besar antara seorang mu’min yang mengamalkan semua tuntutan keimanannya dengan mereka yang tak seperti itu. Hal itu karena agama menyeru manusia untuk qana’ah (merasa cukup) rizki Allah dan semua yang dialami seorang hamba dari keutamaan dan karunia-Nya yang bermacam-macam.

Seorang mu’min jika ditimpa penyakit atau kefakiran atau musibah lainnya dimana setiap orang memiliki kemungkinan itu, lalu dengan keimanannya dia akan menerimanya dengan qana’ah dan ridha atas pemberian Allah kepadanya, maka hatinya menjadi tenang, tidak menuntut sesuatu yang dia tidak mampu untuk meraihnya, dirinya selalu melihat orang yang di bawahnya (yang lebih menderita dari dia) dan tidak melihat orang yang di atasnya (yang lebih senang darinya), bahkan bisa jadi dia semakin bertambah senang dan gembira jika melihat orang-orang yang dapat meraih keinginan-keinginan dunianya namun tidak memiliki sifatqana'ah atas semua itu.

Begitu juga akan anda dapatkan orang-orang yang tidak mejalankan nilai-nilai keimanan, manakala mendapatkan cobaan seperti kefakiran atau luputnya sebagian dari keinginan duniawinya, dia sangat putus asa dan menderita.
Kasus lainnya: Ketika sebab-sebab ketakutan dan kekalutan menghinggapi manusia, maka akan anda dapati orang yang imannya benar, hatinya akan mantap, jiwanya tenang, teguh dalam mencari penyelesaian serta menyelesaikan masalah yang menimpanya tersebut
dengan keluasan yang dimilikinya berupa pemikiran,perkataan dan perbuatan. Dirinya telah kokoh menghadapai gangguan yang menimpa. Kondisi seperti ini akan membuat seseorang tenang dan hatinya mantap.
Sebagaimana akan anda dapatkan orang yang tak memiliki keimanan, mengalami kondisi sebaliknya. Jika mengalami ketakutan, hatinya menjadi tak tenang,emosinya tak tekontrol, pikirannya kacau-balau dan ketakutan menjalar dalam dirinya. Sehingga dalam dirinya terkumpul ketakutan luar-dalam yang sulit untuk diungkapkan. Orang semacam ini jika belum pernah mendapatkan latihan yang banyak dalam mengatasi permasalahan berdasarkan sebab-sebab alami, akan meruntuhkan kekuatan dan kejiwaannya, karena ketiadaan iman yang mengarahkannya kepada kesabaran,khususnya dalam kondisi terdesak dan sangat menyedihkan atau menakutkan.

Orang baik dan orang jahat, orang beriman dan orang kafir punya kemungkinan yang sama dalam mewujudkan keberanian dan naluri untuk memperkecil ketakutan, akan tetapi orang beriman memiliki kelebihan berupa kekuatan iman, kesabaran dan tawakkal kepada Allah, berpegang teguh kepada-Nya dan mengharapkan pahala dari Allah ta’ala, semua itu akan menambah keberaniannya,meringankan beban ketakutannya dan memperkecil pengaruh musibah. Sebagaimana Allah berfirman:

إِن تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan pula
sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah, apa yang tidak mereka harapkan.” (An-Nisa: 104).
Mereka juga akan mendapatkan pertolongan dan bantuan khusus dari Allah ta’ala yang dapat menghilangkan ketakutan:
 وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Dan bersabarlah kalian, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (Al-Anfal: 46).
Semoga bermanfaat dan Allah ta'ala menjadikan kita sebagai orang yang senantiasa beriman dan beramal saleh.



B. Berkompetisi Dalam Kebaikkan Anjuran Allah

AL BAQARAH 148

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَمَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

 Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Nabi Muhammad mula-mula beserta para sahabatnya dalam sholatnya mengahadap baitul maqdis selama 16 bulan lamanya.
setelah itu Allah SWT memerintahkan pemindahan arah kiblat ke ka'bah masjidil haram di makkah. akan tetapi pemindahan arah kiblat ini dijadikan alat oleh kaum ahli kitab untuk menjatuhkan kredibilitas Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul. Padahal meraka sudah tahu bahwa Beliau yang mereka kenal sebagai rasul tidaklah mungkin begitu saja memindahkan arah kiblat ke masjidil haram tanpa adanya perintah dari wahyu. 


dalam ayat tersebut Allah SWT menegaskan bahwa setiap umat ada kiblatnya masing-masing.sebagai tempat menghadap ibadah kepada Nya. sehingga kewajiban bagi hamba-hambanya adalah :
mematuhi arah kiblat yang telah ditetapkan oleh wahyu, meskipun perbedaan arah kiblat itu tidak dijelaskan mengenai rahasia hikmahnya.
berkompetisi dalam kebaikan فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ  maka Allah akan membalas setiap amal perbuatan manusia kelak dengan balasan yang setimpal.
surat al baqarah ayat 148  tersebut di atas terdiri dari 4 bagian
 وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا menghadap kiblat itu semata-mata kewajiban syar'i bukan prinsip ajaran agama sepeti halnya meng ESA kan Allah, beriman kepada hari akhir, oleh karena itu dalam masalah kiblat ataupun seperti bilangan rakaat dalam shalat, ukuran harta benda yang wajib di zakatkan, semua itu harus tunduk pada perintah wahyu. Setiap umat ada kiblatnya sendiri-sendiri dalam beribadah. Nabi Ibrahim, Nabi Isamail menghadap ka'bah, Bani Israil menghadap batu besar di baitul maqdis, orang nasrani menghadap arah timur.Masalah kiblat termasuk jenis perbedaan sebagaimana perbedaan suku dan bangsa oleh kaerna itu tidak perlu lagi diperdebatkan.

Dalam ajaran agama ada masalah yang boleh diperdebatkan dan ada masalah yang tidak boleh di perdebatkan ;

Masalah ushul yakni masalah yang sudah di jelaskan secara tegas di dalam al quran maupun hadis. seperti  rukun iman ada 6, rukun islam ada 5, menghadap kiblat, jumlah shalat fardlu, nabi muhammad sebagai nabi terakhir, larangan mkan harta riba. masalah inilah yang umat islamtidak boleh berbeda pendapat.
masalah furu' yakni masalah yang sifat keterangannya tidak jelas didalam al quran mapun hadis, bahkan tidak di singgung sama sekali. seperti melafalkan niat, doa qunut dalam shalat subuh, pelaksanaan shalat I'd di masjid atau di lapangan. masalah yang sperti inilah umat islam di perbolehkan berbeda pendapat.asalkan orang yang mengeluarkan pendapat itu adalah orang yang ahli dalam bidangnya.
2. فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ  potongaayat ini menjelaskan lebih baik saling berlomba-lomba dalam berbuat kebikan dari pada membuang-buang energi memperdebatkan masalah kiblat yang pada akhirnya orang akan menyesal di kemudian hari sebab amalperbuatan seseoranglah yang nantinya dibuat bekal menghadap kepada Nya di akhirat nanti.
3. أَيْنَمَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا  dimana saja kamu berada niscaya Allah akn mengumpulkan kamu sekalian oleh kaeran itu seperti yang sudah di jelaskan di atas bahwa berkompetisi dalam kebikan lebih utama dijadikan sebagai pandangan hidup. persoalan letak geografis maupun kiblat tidaklah temasuk dalam pokok ajaran agama melainkan hanya sebgai wahana dalam kompetisi berbuat kebaikan.
4. إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ maka tidak satu makhluk pun yang dapat menjadikan Allah kuwalahan dalam mengumpulkan umat manusia disana meskipun mereka berjauhan tempatnya.




Selasa, 28 Mei 2013

UJIAN DAN COBAAN

A. Bentuk Ujian Dari Allah



155. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"

Firman Allah dalam Q.S. Al Mulk ayat 1-2 yang artinya:
Maha Suci Allah, yang di tangan Nya lah segala kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang Menjadikan mati dan hidup supaya Dia manguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
Sebagaimana terungkap dengan jelas pada ayat tersebut bahwa sesungguhnya Dialah Allah, Rabb Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu, baik yang nyata maupun yang ghaib (tersembunyi). Segala pujian hanya teruntuk Allah, Rabb semesta alam. Segala sesuatu yang teralurkan di dalam diri maupun di luar diri kita adalah bagian dari tanda kekuasaan Allah yang tak terhinggakan dengan atas kehendakNya.
Dialah Allah yang mencurahkan kehidupan dan kematian kepada apapun yang di kehendakiNya. Kehidupan dan kematian dalam ayat tersebut memiliki makna yang luas dan bukan semata-mata kehidupan ataupun kematian yang terpahami oleh sebagian besar umat manusia saat ini. Kehidupan dan kematian dalam ayat tersebut meliputi segala bentuk dimensi kehendak Allah yang mengalir di dalam diri dan di luar diri, baik yang nyata maupun yang tersembunyi. Termasuk di antaranya gerak peristiwa dalam hati, pikir maupun tubuh manusia baik yang nyata maupun yang tersembunyi dengan atas kehendakNya.
Dialah Allah yang mencurahkan gerak kehidupan dan penghidupan dalam tubuh kita melalui segenap perangkat biologis sebagaimana yang kita ketahui saat ini. Dan Dia pulalah yang mematikan segenap gerak penghidupan dalam diri ketika ruh atau nyawa kita dipanggil kembali kepada Allah dengan atas kehendakNya. Ruh tersebut merupakan bagian dari dimensi cahaya Allah yang tercurahkan kepada diri tiap manusia sebagai bukti nyata atas ke-MahaBercahaya-an Allah yang tak terhinggakan.
Allah pulalah yang mencurahkan ego serta hasrat diri pada tiap manusia sebagai suatu bentuk ujian yang Dia terapkan kepada siapapun yang dikehendakiNya. Ego dan hasrat diri merupakan cerminan cahaya gelap yang senantiasa menjerumuskan manusia pada jurang kenistaan dan kehinaan dunia maupun akhirat. Meski demikian, sesungguhnya ego dan hasrat diri sengaja Allah ciptakan sebagai suatu bentuk ujian bagi manusia dalam menjalani kehidupan di dunia ini dengan atas kehendakNya. Ruh sebagai cerminan cahaya suci Allah dan ego hasrat diri sebagai cerminan cahaya gelap Allah merupakan dua dimensi kehendak Allah yang sengaja Dia tetapkan bagi segenap manusia di bumiNya.
Tertundukkannya ego dan hasrat diri kepada cahaya suci Allah itulah yang sesungguhnya akan membuat jiwa kita senantiasa hidup dalam kebahagiaan sejati, baik ketika di dunia bahkan kelak di akhirat dengan atas kehendak Allah. Jiwa yang terbelenggu oleh ego dan hasrat diri (dalam arti yang seluas-luasnya) adalah jiwa yang tercerabut dari akar kehidupan azali yang termurnikan. Jiwa itulah yang pasti akan mendapat kesengsaraan dunia maupun akhirat dengan atas kehendakNya.
Dialah Allah yang menjadikan segala sesuatu di bumi maupun di langit sebagai tanda-tanda kebesaranNya yang tak terhinggakan, karena hanya Dialah Rabb Yang Maha Bercahaya lagi Maha Tak Terhinggakan.

QS. Al-Anbiya/21 : 35

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan

1. Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah 'Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi)

2. Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa. (HR. Bukhari)
3. Sa'ad bin Abi Waqqash berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, "Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?" Nabi Saw menjawab, "Para nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamnya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Bukhari)

4. Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka dia diuji (dicoba dengan suatu musibah). (HR. Bukhari)
5. Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu. (HR. Ath-Thabrani)

6. Apabila Allah menyenangi hamba maka dia diuji agar Allah mendengar permohonannya (kerendahan dirinya). (HR. Al-Baihaqi)
7. Apabila Aku menguji hambaKu dengan membutakan kedua matanya dan dia bersabar maka Aku ganti kedua matanya dengan surga. (HR. Ahmad)
8. Tiada seorang mukmin ditimpa rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampai pun duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya. (HR. Bukhari)
9. Seorang mukmin meskipun dia masuk ke dalam lobang biawak, Allah akan menentukan baginya orang yang mengganggunya. (HR. Al Bazzaar)

10. Tidak semestinya seorang muslim menghina dirinya. Para sahabat bertanya, "Bagaimana menghina dirinya itu, ya Rasulullah?" Nabi Saw menjawab, "Melibatkan diri dalam ujian dan cobaan yang dia tak tahan menderitanya." (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
11. Bukanlah dari (golongan) kami orang yang menampar-nampar pipinya dan merobek-robek bajunya apalagi berdoa dengan doa-doa jahiliyah. (HR. Bukhari)
Penjelasan:
Dilakukan pada saat kematian anggota keluarga pada jaman jahiliyah.

12. Allah menguji hambaNya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah). (HR. Ath-Thabrani)

13. Salah seorang dari mereka lebih senang mengalami ujian dan cobaan daripada seorang dari kamu (senang) menerima pemberian. (HR. Abu Ya'la)

14. Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menguji hambanya dalam rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Kalau dia ridho dengan bagian yang diterimanya maka Allah akan memberkahinya dan meluaskan pemberianNya. Kalau dia tidak ridho dengan pemberianNya maka Allah tidak akan memberinya berkah. (HR. Ahmad)

15. Barangsiapa ditimpa musibah dalam hartanya atau pada dirinya lalu dirahasiakannya dan tidak dikeluhkannya kepada siapapun maka menjadi hak atas Allah untuk mengampuninya. (HR. Ath-Thabrani)
16. Bencana yang paling payah ialah bila kamu membutuhkan apa yang ada di tangan orang lain dan kamu ditolak (pemberiannya). (HR. Ad-Dailami)

17. Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan dan menzalimi lalu beristighfar maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah. (HR. Al-Baihaqi)

B . Hikmah Dibalik Ujian Dan Cobaan

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui

Dibalik ujian dan cobaan baik itu kemiskinan, hutang, kehilangan dan yang lainnya tersimban hikmah yang besar. Hikmah itu hanya didapatkan oleh orang yang menyadari tujuan dari ujian..
Hikmah besar, rahasia besar akan dirasakan saat kita menerima ujian kemudian tetap menyetel frekuensi otak dan rasa kepada kesabaran dan keikhlasan.


Ass Ust. Saya Bu Yt beban saya banyak ust. Saya baru ditipu sama tetangga 10jt, skrg hutang saya banyak dan sebentar lagi melahirkan anak, mhn solusinya.. 081217428030

Ass. Saya mau bertanya. Amalan apa yang harus saya baca agar dapat membayar hutang dalam waktu 4 hr. Saya kepepet harus bayar. 083807124363

Ass. Pak saya baru baca sukses 40 hari.. Apakah saya karyawan bisa sukses? Karena ingin punya rumah istri saya sampai jadi TKI. 085863135686

Yth.. Saya pedagang sayuran penghasilan pas-pasan kadang malah tombok. Penghasilan malah buat bayar hutang sedang untuk belanja kembali bingung. Mhn bantuannya. 081903470194

Ust, Saya orang hina dan miskin. Apa zikir selesai shalat supaya bisa kaya dunia akherat? saya sering dibenci karena miskin.. Dimanapun bekerja selalu saja ada orang yang menjatuhkan saya. Pingin usaha sendiri tidak punya modahl. Tlg saya Pak? 082388015678

Sebelum anda menemukan rahasia besarnya saya mengajak pembaca untuk mendoakan saudara kita diatas dan siapapun yang sedang menerima ujian_Nya semoga tetaplah dalam kesabaran sehingga pertolongan_Nya segera datang. Katakan Amin

“Berilah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang pada waktu ditimpa musibah, mereka berkata: Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan kepada-Nyalah kami akan kembali. Mereka itulah yang mendapat keberkatan dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh petunjuk.”
(Al-Baqarah: 156-157) 

Hikmah dibalik Musibah/ujian

Sebelum membaca hikmah dibalik cobaan saya mohon pembaca membuka hati untuk menerima penjelasan saya. Tanpa kesadaran untuk itu maka penjelasan dibawah tidak akan membawa manfaat untuk anda.
Inilah hikmah besar didalam cobaan berupa hutang, kemiskinan, kekurangan dan lain-lain

1. Supaya kita dekat dengan Allah swt
Bukankah ketika anda mendapat ujian Nama Allah lah yang sering anda sebut? Bukankah itu semua merupakan bentuk kasih sayang_Nya?? Orang yang lari dari ujian dan cobaan berarti dia lari dari kasih sayang Tuhan. Orang yang sedang menerima ujian dan cobaan supaya dia tetap bertahan dan ber Tuhan. Maka anda layak menangis bahagia karena anda adalah salah satu dari milyaran hamba_Nya yang dipilih untuk mendapatkan kasih sayang_Nya. Anda layak tersungkur seraya bersujud karena Dia memberikan perhatian yang luar biasa kepada anda. Selamat anda adalah kandidat dari Tuhan karena tidak semua orang mendapatkannya.

2. Supaya diberikannya sifat-sifat fitrah terpuji yang mampu mengantarkannya ke Surga_Nya 
Apa sifat-sifat fitrah terpuji itu?? Yakni sabar, tawakal, syukur, ikhlas, yakin dan lain sebagainya. Bukankah ujian merupakan cara untuk meraih energi sejati tersebut?. Bukankah rasa itu adalah salah satu tiket ke Surga?? Bukankah shalat, puasa dan ibadah lainnya pada hakikatnya untuk melatih keyakinan (iman), rasa tawakal kepada Tuhan dan rasa penghambaan kepada_Nya??

Barangkali ibadah anda tidak mempunyai efek bagi terbangkitnya rasa penghambaan kepada Tuhan. Bisa karena tidak memahami bacaan shalat umpamanya, atau shalat yang sering bolong dan tidak tepat waktu. Makanya Allah swt mengirimkan sebuah ujian kepada anda sebagai pengganti rasa penghambaan kepada_Nya. Lihat bagaimana Dia begitu sayang kepada anda. Makanya anda layak untuk tersungkur dan memuji_Nya. Wallahu A'lam

Ujian dan cobaan sebenarnya untuk melatih rasa butuh akan Tuhan. Setelah mengetahui hakekat itu kemudian anda tetap bersyukur dan sabar tiada batas akan ujian tersebut karena memang itulah tujuannya. Selanjutnya yakin akan pertolongan_Nya ketika kita sudah secara benar menerapkan rasa sabar dan tawakal kepada_Nya. Dan pada akhirnya anda layak mendapatkan titel sebagai hamba yang sabar dan selalu bersyukur akan berkah hidup anda.. Bukan titel dari manusia namun titel dari langit

3. Supaya dimuliakan_Nya dengan tambahan rezeki_Nya
Saat ujian menerpa hidup maka apa yang anda latih dan pikirkan??? Yang anda latih adalah rasa seperti diatas. Yang anda pikirkan dan fokuskan adalah pertolongan_Nya. Jika anda mendapat ujian berupa kekurangan harta maka yang anda fokuskan adalah bagaimana caranya supaya anda mendapatkan rezeki lebih. Yang anda fokuskan adalah uang. Apapun yang anda fokuskan akan tumbuh. Semua ahli sepakat untuk hal ini. Jika anda fokus untuk merubah rezeki maka percayalah doa anda sedang berproses menuju realitas fisik. Ketika ujian berupa kekurangan harta menerpa maka saat itulah waktu yang paling tepat untuk fokus kepada kelancaran rezeki. Energi rezeki yang anda pancarkan akan luar biasa hebat. Otomatis...
Makanya itu inilah keajaiban/hikmah besar yang perlu anda renungkan. Sabar dan tawakal serta selalu bersyukur atas berkah hidup dan segala macam ujiannya kemudian selalu berdoa kepada_Nya agar ujian itu segera berakhir. Inilah rumus kemuliaan, rumus kekayaan yang sejati. Sabar + Sukur + Doa = Kemuliaan + kekayaan.
Jika anda sabar maka akan ditolong
Jika anda sukur maka akan ditambah
Jika anda tawakal maka akan diberikan jalan keluar dan rezeki tak terduga
Jika anda yakin maka anda mendapatkannya
Jika anda berdoa maka anda akan diberikan_Nya

Inilah rumus yang tidak perlu anda hapalkan namun anda terapkan dengan sebenarnya.  

4. Supaya menjadi wakil_Nya sebagai khalifah dimuka bumi
Setelah itu apa?? Tujuan besarnya supaya ke depan anda layak untuk menjadi khalifah dimuka bumi. Menjadi pemakmur bumi dan isinya. Menjadi hamba yang bermanfaat buat sesama. Andalah orang yang mulia mentalnya berwatak sabar, syukur, pasrah, yakin, tawakal dan selalu berhamba kepada Allah swt
Andalah orang yang kaya harta dan kaya hati. Andalah yang layak untuk membantu sesama yang kekurangan, membantu orang yang terzalimi. Karena apa?? karena anda sudah lulus sekolah Tuhan. Karena anda sudah menjadi fitrah manusia yakni manusia dari surga yang diturunkan ke bumi untuk menjadi khalifah bagi kemanfaatan mahluk_Nya. Menjadi Rahmatan Lil Aalamiin...

Contoh Kata Pengantar, Daftar Isi, Dan Kata Penutup



Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hidayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam administrasi pendidikan dalam profesi keguruan.
Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah inI sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………......…i

POLA HIDUP SEDERHANA………………………………………………………………………......1
TIDAK BERLEBIHAN…………………………………………………………………………………2
PEMBOROS SAHABAT SETAN……………………………………………………………...............3
LARANGAN KIKIR DAN BOROS……………………………………………………………...........4
AKIBAT BAGI ORANG YANG KIKIR…………………………………………………………...…..5
MENYANTUNI DU’AFA………………………………………………………………………….......6
                                                                                                                      
PENUTUP…………………………………………………………………………………………........
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………………….......





KATA PENUTUP


Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dusi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.





Senin, 27 Mei 2013

AMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR

Amar makruf Nahi Munkar Adalah Salah satu kewajiban penting yang diamanahkan oleh Rasulullah saw kepada kaum Muslim adalah "al amru bil ma'ruf dan al-nahyu 'anil munkar"(memerintahkan yang ma'ruf dan mencegah kemunkaran). Secara umum, kaum Muslim wajib mendukung tegaknya kebaikan dan melawan kemunkaran. Tugas ini wajib dilakukan oleh seluruh kaum Muslimin, sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Sebab, Rasulullah saw sudah mengingatkan, agar siapa pun jika melihat kemunkaran, maka ia harus mengubah dengan tangan, dengan lisan, atau dengan hati, sesuai kapasitasnya.


Kewajiban Melaksanakan Amar Makruf Nahi Munkar
QS.Ali Imran; 104 dan 110
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةُ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ {104}
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَلَوْءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرَهُمُ الْفَاسِقُونَ {110}
Artinya;
 “Dan hendaklah ada di antara kamu, satu golongan yang mengajak (manusia) kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf,melarang dari kejahatan dan merekalah orangorang yang beuntung” (Surah Ali-’Imran : Ayat 104)

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Penjelasan

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
Amar ma’ruf nahi mungkar adalah kewajiban bagi tiap-tiap muslim yang memiliki kemampuan. Artinya, jika ada sebagian yang melakukannya, yang lainnya terwakili. Dengan kata lain, hukumnya fardhu kifayah.
Namun, boleh jadi, hukumnya menjadi fardhu ‘ain bagi siapa yang mampu dan tidak ada lagi yang menegakkannya. Al-Imam an-Nawawi t mengatakan, “Amar ma’ruf nahi mungkar menjadi wajib ‘ain bagi seseorang, terutama jika ia berada di suatu tempat yang tidak ada seorang pun yang mengenal (ma’ruf dan mungkar) selain dirinya; atau jika tidak ada yang dapat mencegah yang (mungkar) selain dirinya. Misalnya, saat melihat anak, istri, atau pembantunya, melakukan kemungkaran atau mengabaikan kebaikan.” (Syarh Shahih Muslim)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Amar ma’ruf nahi mungkar adalah fardhu kifayah. Namun, terkadang menjadi fardhu ‘ain bagi siapa yang mampu dan tidak ada pihak lain yang menjalankannya.`


Ancaman Bagi Yang Meninggalkan Amar Makruf Nahi Munkar  


{ لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (78) كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (79) تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ} [المائدة: 78 - 80]

Artinya :
Orang-orang kafir dari bani israil telah dilaknat melalui lisan (ucapan) Dawud dan isa putra maryam. Yang demikian itu karena meraka durhaka dan selalu melampaui batas.
Mereka tidak saling mencegah perbuatan munkar yang selalu mereka perbuat sungguh sangat buruk  apa yang mereka perbuat.
Kamu melihat banyak diantara mereka tolong menolong dengan orang orang kafir (musryrik) sungguh sangat buruk apa yang mereka lakukan untuk diri mereka sendiri, yaitu kemurkaan Allah ,dan mereka akan kekal dalam azab

Penjelasan
Orang-orang kafir Yahudi dari Bani Israil telah dilaknat (di dalam Kitab-kitab Zabur dan Injil) melalui lidah Nabi Daud dan Nabi Isa Ibni Mariam. Yang demikian itu disebabkan mereka menderhaka dan selalu menceroboh.
Mereka sentiasa tidak berlarang-larangan (sesama sendiri) dari perbuatan mungkar (derhaka dan ceroboh), yang mereka lakukan. Demi sesungguhnya amatlah buruknya apa yang mereka telah lakukan.
Engkau melihat banyak dari mereka menjadikan orang-orang kafir (musyrik) teman rapat mereka. Demi sesungguhnya amatlah buruknya apa yang mereka sediakan bagi diri mereka (pada hari akhirat kelak) iaitu kemurkaan Allah menimpa mereka, dan mereka pula tetap kekal di dalam azab (Neraka).